Menjejak “Africa Van Java”, Sebuah Perjalanan ke Alam Liar Baluran
Ada momen dalam hidup ketika alam seolah memelukmu begitu erat hingga kamu lupa bahwa sedang berada di dunia nyata. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali menjejakkan kaki di potongan surga yang sering dijuluki Africa Van Java, di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.
Perjalanan menuju ke sana terasa seperti ritual menuju dunia lain. Dari Surabaya, saya menempuh perjalanan sekitar lima jam ke arah timur.
Begitu melewati Desa Wonorejo, lanskap berubah drastis. Gedung dan kendaraan menghilang, hamparan akasia kering yang menari-nari tertiup angin, udara mulai hangat, debu tipis menempel di kaca, dan … hati saya tahu bahwa perjalanan kali ini akan berbeda.
Begitu gerbang Baluran terbuka, waktu seolah berhenti. Seekor monyet ekor panjang duduk santai di tepi jalan, sementara burung-burung kecil melintas di langit biru tanpa awan.
Jalan menuju Savana Bekol hanya sekitar 30 menit, tetapi setiap meter terasa seperti bab baru dalam kisah kehidupan liar. Di kejauhan, siluet Gunung Baluran berdiri gagah, menjadi penjaga abadi dari lautan padang rumput berwarna keemasan.
Musim kemarau membuat seluruh lanskap tampak seperti lukisan raksasa yang diciptakan langsung oleh matahari. Rumput-rumput kering bergoyang lembut, angin membawa aroma tanah hangus yang hangat, dan sinar mentari terasa begitu dekat dengan kulit.
Namun saat musim hujan datang, kata petugas taman, padang ini berubah menjadi lautan hijau segar. Saya menyebutnya seperti sebuah metamorfosis alam yang nyaris ajaib, seolah Baluran memiliki dua jiwa dalam satu tubuh.
Di tengah Savana Bekol, semuanya hidup dalam harmoni yang nyaris mistis. Rusa, banteng, dan lutung hitam melintas bebas, sementara seekor merak jantan memamerkan bulu-bulunya seperti sedang menantang matahari untuk bersinar lebih terang.
Ada momen ketika seekor banteng besar berjalan perlahan di depan mobil saya, hanya beberapa meter jaraknya , pandangan matanya tenang tapi berwibawa, seolah berkata “Ingat, di sini kamu hanya tamu.”
Yang membuat saya terkagum-kagum bukan hanya pemandangan atau satwa liarnya, tapi juga betapa terjangkaunya harga untuk pengalaman seagung ini.
Bayangkan, dengan Rp21.000 di hari kerja, atau Rp31.000 saat akhir pekan, Anda bisa melangkah ke kawasan seluas ribuan hektare yang terasa seperti halaman depan Afrika. Bahkan wisatawan asing pun hanya perlu membayar Rp205.000 untuk menyaksikan keajaiban ini, dan sungguh, setiap rupiahnya terasa sepadan.
Untuk kendaraan pribadi, biayanya tidak lebih mahal dari secangkir kopi di kafe kota. Parkir mobil dikenai sekitar Rp10.000–Rp60.000, tergantung jenis kendaraan.
Bagi para pemburu momen estetis, taman ini juga membuka kesempatan istimewa, yaitu penyedia jasa foto prewedding, yang dikenai biaya sekitar Rp1 juta, sementara pengambilan gambar menggunakan drone sekitar Rp2 juta.
Mahal? Tidak juga. Sebab bagaimana mungkin kita menilai harga dari langit yang berwarna emas, atau siluet rusa yang melintas di tengah padang dengan angka?
Namun Baluran bukan sekadar savana. Ia adalah miniatur keanekaragaman Indonesia dalam satu bentang luas. Ada hutan mangrove yang sunyi, hutan pantai yang menenangkan, dan laut biru di Pantai Bama yang sejernih kaca.
Saat saya duduk di tepi pantai itu, angin laut yang asin bertemu dengan aroma tanah kering dari savana, sehingga mencipta perpaduan yang aneh tapi menenangkan seperti dua dunia yang akhirnya berdamai.
Saya sempat melakukan trekking ringan menuju jalur vegetasi di kaki Gunung Baluran. Matahari terasa garang, tapi setiap langkah menyuguhkan pemandangan baru. Pepohonan tua yang membungkuk anggun, burung elang berputar di langit, dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan.
Saat mencapai titik pandang tertinggi, saya terdiam cukup lama. Di depan saya, hamparan savana terbentang sejauh mata memandang. Dan untuk sesaat, saya merasa kecil sekali. Di sinilah, di tengah kesunyian Baluran, saya belajar lagi tentang kerendahan hati di hadapan alam.
Namun, jangan datang ke sini dengan ekspektasi hotel berbintang atau sinyal internet yang kuat. Baluran tidak menjual kenyamanan modern, ia menawarkan kejujuran alam yang mentah, yang tidak bisa dibungkus oleh kemewahan manusia.
Tidak ada bar tepi pantai, tidak ada musik pop yang mengiringi senja. Hanya suara angin, langkah hewan liar, dan matahari yang tenggelam perlahan di balik gunung. Saat langit berubah jingga, dunia terasa diam seperti seluruh semesta berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi keindahan.
Sebelum meninggalkan taman, saya menyempatkan diri singgah ke Gua Jepang, peninggalan masa perang yang tersembunyi di tengah hutan, serta Evergreen Forest yang tetap segar bahkan di musim kemarau. Dua tempat ini seolah menjadi penutup kisah, menjadi pengingat bahwa alam selalu punya cara sendiri untuk bertahan dan bercerita.
Baluran bukan sekadar destinasi. Ia adalah perjalanan menuju kesadaran, bahwa keindahan tidak selalu membutuhkan tiket pesawat mahal, dan kebesaran tidak selalu berdiri di puncak gunung. Karena terkadang, ia bersembunyi di tengah padang rumput kering di ujung Jawa Timur.
Dan ketika saya meninggalkan gerbang taman nasional itu, banyak debu menempel di Sepatu, dan kulit sedikit hangus matahari. Tapi satu hal yang tidak terlupa, bahwa hati saya hangat, kaena saya baru saja melihat wajah Indonesia yang paling jujur; liar, megah, dan luar biasa indah.
