Melangkah ke Dunia Fantasi di De Djawatan Banyuwangi
Ada satu hal yang selalu membuat saya kagum setiap kali bepergian, yaitu ketika menemukan tempat yang diam-diam menyimpan keindahan, jauh dari hiruk-pikuk turis dan gemerlap media sosial.
Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di De Djawatan Forest, Banyuwangi. Banyak orang mungkin akan langsung memikirkan Bali saat mendengar kata liburan ke Indonesia. Tapi siapa sangka, di ujung timur Pulau Jawa ada sebuah hutan tua yang atmosfernya begitu magis hingga membuat saya merasa seperti melangkah ke dunia fantasi yang hidup.
Perjalanan dari pusat kota Banyuwangi menuju De Djawatan hanya memakan waktu sekitar satu jam. Jalan yang saya lalui terasa tenang dan menyenangkan, karena dihiasi hamparan sawah hijau dan rumah-rumah kayu sederhana yang berdiri di antara pepohonan kelapa.
Begitu tiba di gerbang bertuliskan “Wisata De Djawatan”, suasana langsung berubah. Udara terasa lembap dan sejuk, aroma tanah basah bercampur daun trembesi yang gugur menyambut dengan lembut.
Tiket masuknya pun hanya enam ribu rupiah. Harga yang nyaris tidak masuk akal untuk keindahan yang menanti di dalamnya.
Langkah pertama membawa saya ke pemandangan yang benar-benar memukau. Di depan mata terbentang hutan dengan ratusan pohon trembesi raksasa yang berusia ratusan tahun, yang jumlahnya mencapai 800 pohon.
Batang-batangnya besar dan kokoh, menjulang tinggi ke langit, sementara cabang-cabangnya melingkar liar, menjuntai dengan lumut dan pakis yang tumbuh liar di permukaannya. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pancaran lembut berwarna keemasan.
Rasanya seperti berjalan di tengah adegan film fantasi, di mana setiap langkah seolah membawa saya lebih dekat ke sesuatu yang magis. Banyak orang bilang hutan ini seperti Hutan Fangorn di film The Lord of the Rings, dan jujur saja, saya tidak bisa membantahnya.
Saya terus berjalan perlahan di bawah kanopi raksasa itu, dan setiap sudutnya tampak seperti lukisan. Sinar matahari yang menari di udara, dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin, hingga bayangan pepohonan yang membentuk pola di tanah. Menurut saya, all of it feels surreal.
Bahkan tanpa filter, setiap foto di sini sudah tampak seperti karya seni. Tidak heran banyak pasangan yang memilih tempat ini untuk prewedding. Tapi bagi saya, keindahan De Djawatan bukan sekadar tentang foto, melainkan tentang ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Saya bisa merasakan kesejukan yang menenangkan hingga ke dada, ketika Duduk di bawah pohon tua sambil memejamkan mata. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada bising kota, hanya desir angin dan kicau burung yang mengisi udara.
Bagi yang ingin sedikit petualangan, di sini juga tersedia andong, kuda, dan ATV yang bisa disewa. Saya sempat mencoba naik andong berkeliling hutan, dan rasanya seperti kembali ke masa lalu.
Setiap langkah kuda menimbulkan bunyi ritmis di tanah lembap, sementara sinar matahari sore menembus di sela-sela daun, menimbulkan siluet keemasan yang indah.
Jika ingin sensasi yang lebih menantang, ATV bisa jadi pilihan seru untuk menjelajahi jalur berbatu sambil menikmati aroma tanah basah dan udara segar yang menampar wajah.
Setelah puas berjalan dan berkeliling, saya singgah di sebuah kafe kecil di tengah hutan. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu, namun atmosfernya hangat dan menenangkan.
Saya memesan secangkir kopi hitam dan sepiring gorengan hangat. Saat menyeruput kopi panas di bawah kanopi trembesi raksasa, ada rasa damai yang sulit dijelaskan. Cahaya matahari sore perlahan menembus di antara dahan pohon, menciptakan pemandangan yang hampir spiritual. Momen itu sederhana, tapi bagi saya, justru di situlah letak keistimewaannya.
De Djawatan berada di Desa Purwosari, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Lokasinya terletak sekitar 33 kilometer dari pusat kota. Aksesnya mudah dan jalannya cukup jelas dengan petunjuk arah yang lengkap.
Jika berangkat dari Alun-Alun Banyuwangi, cukup ikuti Jalan Jenderal Sudirman hingga menemukan gapura bertuliskan “Wisata De Djawatan,” lalu belok kanan dan parkir di area yang sudah disediakan. Tempat ini buka mulai pukul delapan pagi hingga setengah enam sore.
Bagi saya, De Djawatan bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah tempat yang memberi ruang bagi siapa pun untuk berhenti sejenak dari dunia yang sibuk, untuk bernapas lebih dalam, dan untuk merasakan bagaimana alam bisa menyembuhkan dengan cara yang sangat sederhana.
Di bawah pohon-pohon tua yang seolah bernafas bersama waktu, saya menemukan keheningan yang menenangkan, dan sekelebat rasa kagum yang membuat saya ingin kembali suatu hari nanti.
Disini, saya menyadari satu hal, bahwa Banyuwangi ternyata punya caranya sendiri untuk membuat siapa pun jatuh cinta tanpa perlu banyak kata, tanpa perlu banyak polesan. Hanya dengan hutan, cahaya, dan keindahan yang berbicara lewat keteduhan.
